Kamis, 26 Januari 2012

konsep manajemen dalam usaha perikanan Purse Seine


 I. Latar Belakang

     Pembangunan sektor perikanan merupakan bagian intergral dan pembangunan nasional yang diarahkan untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup nelayan, serta membuka peluang untuk meningkatkan dan memperluas lapangan kerja. Pembangunan perikanan meliputi dua aspek yaitu aspek fisik menyangkut pembangunan prasarana dan sarana perikanan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, dan aspek manusia menyangkut peningkatan kesejahteraan nelayan yang lebih adil dan merata.

     Pembangunan perikanan pada hakeketnya adalah pemanfaatan sumber daya alam yang berkesenambungan dengan maksud untuk meningkatkan taraf hidup nelayan. Untuk meningkatkan produksi tangkapan tersebut dilakukan dengan cara mengusahakan unit penangkapan yang lebih produktif (Dahuri dkk, 2008).

     Menurut Dahuri (2002), Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki sumberdaya perikanan yang bernilai ekonomis tinngi. Sumberdaya perikanan tersebut perlu dikelola dan dimanfaatkan secara berkesenambungan bagikesejahteraan masyarakat.

     Luas Provinsi Maluku yang dikenal dengan Provinsi kepulauan adalah 712.419,69 yang terdiri dari luas laut 658.294,69 km2 (92,4 %) dan luas daratan 58.185 km2 (7,6%), memiliki potensi perikanan sebesar 1.640.160 ton per tahun berdasarkan hasil kajian Badan Riset Kelautan dan Perikanan bekrja sama dengan Pusat Penelitian dan Pembangunan Oceanologi Lembaga Ilmu pengatahuan Indonesia (LIPI) tahun 2001.

     Salah satu alat tangkap yang kebanyakan digunakan oleh nelayan di Maluku adalah purse seine. Menurut Sudirman dan Maulana (2000), purse seine/jaring lingkar atau pukat cincin adalah alat (gear) yang digunakan dalam operasi penangkapan. Alat tangkap ini sangat produktif dalam menciptakan lapangan pekerjaan, serta memberikan peluang untuk berusaha. Secara umum usaha perikanan laut (usaha perikanan tangkap) dihadapkan dengan masalah ketidakpastian produksi, penggunaan investasi dan biaya operasional yang relatif tinggi sehingga dalam pencapaian keberhasilan secara komperhensif pada usaha yang dijalankan perlu diterapkan manajemen secara baik guna mencapai tujuan yang diharapkan. Produksi yang dihasilkan selain dijual juga dikonsumsi oleh rumah tangga nelayan (subsistence).


I.                   Tujuan

Adapun tujuan sebagai berikut :
  1. Mendeskripsikan konsep manajemen dalam usaha perikanan purse seine di negeri Haria.
  2. Menganalisis konsep usaha perikanan purse seine di negeri Haria.


II.                Manfaat

  1. Sebagai sumber informasi yang aktual bagi nelayan terutama nelayan pemilik dalam mengelola usahanya ke depan.
  2. Sebagai bahan informasi dalam pengembangan ilmu, khususnya di bidang agrobisnis perikanan.
  3. Sebagai bahan informasi bagi para usaha perikanan purse seine agar bisa memperbaiki kehidupannya.
III.             Kajian Teoritis

     Purse seine atau jaring lingkar atau pukat cincin adalah alat (gear) yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis. Prinsip menangkap ikan dengan purse seine adalah melingkar gerombolan ikan dengan jaring sehingga jaring tersebut membentuk dinding vertikal dan gerakan ikan kearah horizontal dapat mencegah ikan lari kearah bawah seperti juga ada alat penangkapan ikan lainnya, maka suatu unit purse seine terdiri dari jaring kapal dan alat bantu seperti roller, ecosounder, lampu dan sebagainya. Purse seine juga disebut dengan pukat cincin karena alat tangkap ini dilengkapi dengan cincin dimana tali cincin atau tali kerut terdapat didalamnya. Fungsi cincin atau tali kerut sangat penting terutama dalam pengoperasian jaring, karena dengan adanya tali kerut jaring yang tadinya tidak berkantong akan terbentuk setelah akhir dari penangkapan (Sudirman dan Mallawa, 2000).

     Pada umumnya dalam pengoperasian purse seine dikenal dua teknik penangkapan (Sudirman dan Mallawa, 2000).
  1. Purse seine dioperasikan dengan mengejar gerombolan ikan, hal ini biasanya dilakukan pada siang hari.
  2. Menggunakan alat bantu penangkapan sepeti rumpon, cahaya, fish-finder.
Hal ini dapat dilakukan pada siang hari atau malam hari.

     Purse seine dapat dibedakan atas berbagai segi. Ada yang membedakan berdasarkan ada tidaknya kantong, sehingga dikenal ada purse seine berkantong dan purse seine tanpa kantong. Tetapi juga ada yang membedakan berdasarkan jumlah kapal yang digunakan sehingga dikenal one boat purse seine dan two boat purse seine. Ada pula yang menggolongkan berdasarkan jenis ikan tujuan penangkapan sehingga kita kenal tuna purse seine, sardine purse seine dan sebainya. Berdasarkan tipenya, ada tipe Amerika dan tipe Jepang (Surdiman dan Mallawa, 2000).

     Sumberdaya perikanan bedasarkan sifatnya termasuk salah satu sumberdaya alam yang pengembaliannya tidsk diwarisi atau dibatasi yang berarti setiap orang secara bebas dapat mengambil sumberdaya tersebut maka sumberdaya perikanan seringkali disebut sumberdaya milik besama (Widodo, 2008).

     Perikanan merupakan semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari kegiatan praproduksi, produksi, pengolahan sampai pada pemasaran yang dilaksanakan pada satu sistem bisnis perikanan (UU Perikanan No. 31 Tahun 2004). Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah RI No. 54 tahun 2002, tentang usaha perikanan mengatakan bahwa usaha perikanan adalah semua usaha perorangan atau badan hukum untuk menangkap atau membudidayakan ikan, termasuk kegiatan menyimpan mendinginkan atau mengawetkan ikan untuk tujuan komersial.  











IV.                 Pembahasan

  1. Manajereal
     Manajemen produksi mencangkup perencanaan produksi dan pengendalian proses produksi. manajemen merupakan kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar untuk menghasilkan suatu tujuan yang diharapkan (Handoko, 2003).

     sumberdaya manusia merupakan motor penggerak dalam suatu usaha atau perusahaan baik skala besar, menengah, maupun skala kecil. menurut Simanjuntak, 1993 faktor tenaga kerja menduduki tempat yang strategis karena merupakan faktor penentu produksi dari suatu usaha. dengan demikian dapat dikatakan sumberdaya manusia merupakan penentu berhasil tidaknya suatu usaha. sumberdya manusia pada konteks ini adalah tenaga kerja (ABK). jumlah ABK yang berkerja pada tiap unit purse seine adalah bervariasi dan memiliki pembagian tugas (job Description) sesuai kemampuan yang dimiliki. tabel berikut menunjukan bahwa, rata-rata jumlah ABK per unit purse seine di negeri Haria adalah sebanyak 16 orang. Jumlah ABK per unit berkisar antara 15-20 orang.

Tabel 1. jumlah ABK Unit Usaha Purse Seine
No Res
Total Abk (orang)
Presentase (%)
1
20
12.2
2
18
11.0
3
15
9.2
4
17
10.4
5
15
9.2
6
15
9.2
7
17
10.4
8
16
9.4
9
15
9.2
10
15
9.2

16
100


  1. Teknis

     Dalam kegiatan penagkapan, faktor-faktor yang perlu diperhatikan meliputi penentuan lokasi penangkapan (fishing ground), frekuensi melaut (trip) dan total tenaga kerja (ABK). Lokasi penangkapan nelayan purse seine di negeri Haria, biasanya bekisar pada perairan Negeri Haria, Pulau Saparua, Nusalaut, Pulau Haruku, dan Hutumuri. Bentuk alat bantu penangkapan ikan adalah sero gantung dan lampu petromaks, berkaitan dengan sifat ikan adalah fototaksis positif atau suka mendekati cahaya. Selain itu, indikator yang digunakan untuk mengetahui gerombolan ikan disuatu perairan yakni, adanya burung yang menukik-nukik di permukaan air.

  1. Produksi

     Salah satu ciri usaha perikanan adalah bersifat musiman. Pada musim tertentu total hasil tangkapan semakin meningkat dan pada misim tertentu pula total hasil tangkapan akan menurun. Berdasarkan hasil yang ada maka, frekuensi melaut (trip) nelayan purse seine tergantung pada musim. Bulan Agustus – Januari (Pancaroba I) merupakan musim iakan (MI), sedangkan bulan Februari – juli (Pancaroba II) adalah musim kurang ikan (MKI). Musim ikan frekuensi melaut lebih banyak bila dibandingkan dengan musim kurang ikan. Perbedaan tersebut disebabkan pada musim kurang ikan angin bertiup kencangdisertai dengan lautan yang berombak sehingga operasi penangkapan terganggu, dan ikan berimigrasi ke perairan yang dianggap lebih tenang. Sedangkan pada musim ikan, kondisi perairan yang tenang dan tidak berombak sehingga gerombolan ikan selalu berada disekitar daerah penangkapan. Rata-rata frekuensi melaut musim ikan sebanyak 12 trip/ bulan dan musim kurang ikan rata-rata 10 trip/ bulan.

     Pembagian hasil atau upah tenaga kerja merupakan bagian dari suatu usaha. Upah tenaga kerja diberikan berdasarkan sistem bagi hasil tangkapan dari setiap unit purse seine per trip. Berdasarkan hasil penelitian maka sistem bagi hasil terbagi atas 2 (dua) cara yaitu 50 % : 50% untuk nelayan pemilik dan 50% untuk ABK dibagi berdasarkan tugas yang dilakukan dalam opersi penagngkapan. Sedangkan sistem bagihasil pada penangkapan yang menggunakan alat bantu sero gantung sistem bagi hasilnya adalah 42,5 % untuk nelayan pemilik, 42,5 % untuk ABK dan 15 % untuk sero gantung.


  1. Finansial

            Biaya Investasi

     Investasi merupakan modal kerja parmanen atau biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan barang investasi. Besar investasi awal yang dibutuhkan pada satu unit purse seine adalah bervariasi. Hal ini terlihat dari jenis dan jumlah barang nodal yang digunakan oleh nelayan.

            Biaya Produksi

     Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan untuk membiayai seluruh kegiatan produksi. Biaya produksi yang dihitung dalam opersi penangkapan dibagi atass dua yaitu : Biaya Variabel (variable cost) dan Biaya tetap (fixed cost).

·         Biaya Variabel (variable cost)
      Biaya vaeiabel adalah biaya yang nilainya dapat berubah sesuai perubahan jumlah produksi seperti biaya mencangkup BBm (solar, minyak tanah, dan oli).
Besar biaya variabel pada setiap unit penangkapan selalu berbeda secara proposional. Hal ini terlihat dari penggunaan faktor-faktor produksi seperti frekuensi melaut (trip) serta upah tenaga kerja.
·         Biaya tetap (fixed cost)
     Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi tetapi sifstnya tidak terpengaruh oleh jumlah suatu produk yang dihasilkan.
Biaya ini dianggarkan atau dikeluarkan setiap tahun selama umur produksi, yang terdiri dari biaya perawatan dan biaya penyusutan.

Tabel 2. Komponen Biaya Usaha Purse Seine
No
Jenis Biaya
MI (Rp)
MKI (Rp)
Presentasi (%) MI
Presentasi (%) MKI
1
Biaya tetap
Rp 7.949.000
Rp 3.974.500
66,7
33,3
2
Biaya variabel
Rp 21.857.500
Rp 7.425.5000
74,6
25,4
3
Biaya total
Rp 30.996.450
Rp 22.202.600
58,3
41,7



  1. Manajemen Pemasaran

      Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajereal dengan mana individu memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan cara menciptakan serta mempertukarkan produk dengan pihak lain (Kasmir dan Jakfar, 2006). Sifat produk perikanan adalah mudah rusak, sehingga tidak dapat disimpan dalam wktu yang lama. Oleh karena itu saluran pemasaran harus efisien mungkin agar mutu ikan pada saat tiba di tangan konsumen tetap terjamin. Ikan hasil tangjkapan unit usaha purse seine di negeri Haria dijual langsung kepada jibu-jibu kemudian ke konsumen. Apabila musim ikan rantai pemasaranya adalah nelayan, kemudian kepedagang pengumpul dan selanjutnya ke konsumen.









































V. Penutup

  1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang ada, dapat disimpulkan bahwa :
  1. Aspek manajemen usaha purse seine di negeri Haria berdasaerkan indikator sosial, maka nelayan pemilik memilki inur yang produktif, walaupun tingkat pendidikan masih dikatagorikan rendah. Sedangkan indikator ekonomi menunjukan bahwa tiap responden memiliki rumah yang parmanen.
  2. Aktifitas penangkapan nelayan purse seine di negeri Haria tergantung pada musim. Rata-rata operasi penangkapan yang dilakukan pada musim ikan sebanyak 21 kali dan musim kurang ikan sebanyak 10 kali. Musim ikan terjadi pada bulan september, Oktober dan bulan November, sedangkan musim kurang ikan berlangsung pada bulan Mei sampai bulan Juli.
  3. Investasi rata-rata yang dibutuhkan usaha perikanan purse seine sebesar Rp. 72.120.000, dengan rata-rata nilai penyusutan sebesar Rp. 13.870.000.
  4. Sistem bagi hasil di negeri Haria terbagi atas dua cara yaitu : yang pertama 50% : 50% (pemilik ABK) dan kedua 42,5 % : 15% (pemilik:ABK:Sero gantong). Rata-rata pendapatan pemilik bedasarkan sistim bagi hasil musim ikan sebesar Rp. 118.556.724,- dan rata-rata pendapatan pemilik musim kurang ikan sebesar Rp. 66.038.881. sedangkan rata-rata pendapatan ABK pada musim ikan sebesar Rp. 48.331.391,- dan rata-rata pendapatan ABK pada musim kurang ikan sebesar Rp. 29.624.597.

  1. Saran 

  1. usaha perikanan purse seine di negeri Haria merupakan suatu usaha yang dapat memperbaiki ekonomi masyarakat nelayan. Oleh karena itu, manajemen usaha yang baik perlu diterapkan oleh setiap pengusaha (nelayan pemilik) yang bersifat teknis bagi pengembangan usaha ini usaha ini ke depan.
  2. diharapkan adanya perhatian dari pemerintah terutama instusi terkait dalam hal ini dinas perikanan untuk menunjang usaha ini dalam bentuk bantuan modal dan menyediakan sarana dan prasarana produksi bagi pengembangan usaha perikanan purse seine di negeri Haria.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar